Gadis Pemuas : Di dalam hutan lebat

3 komentar
Aku kasih tau lagi semua cerita yang aku buat bukan pengalaman pribadi, melainkan 100% karangan. Dan ceritaku pakai sudut pandang pertama biar lebih gampang ceritanya. P.S : aku gak mau PM, coz i'm here only to share stories.

Akhirnya lama kelamaan aku mulai sadar, aku merasakan kepalaku sakit sekali karena terbentur batu, kepalaku juga berdarah, aku menyeka darahku dengan punggung tanganku. Lalu aku perlahan bangun dengan sakit yang masih terasa di kepalaku, setelah kondisi badanku sudah tenang, aku baru ingat kalau sebelum aku pingsan aku sedang dikejar-kejar segerombolan orang yang aneh. Kemudian aku melihat sekitarku tapi percuma saja karena keadaan yang gelap gulita, karena aku sama sekali tidak mengenakan apa-apa di tubuhku, dinginnya malam menusuk sampai ke tulangku. Aku bingung harus kemana karena aku hanya melihat pohon-pohon tinggi yang menghalangi pandanganku tapi aku bisa mendengar ada suara aliran air karena suasana sangat sepi sekali. Aku memutuskan untuk mencari dimana aliran air itu, jadi aku masuk ke dalam hutan yang lebat.

Ternyata lumayan jauh, tapi akhirnya sampai juga. Karena aku sangat haus, aku tidak memperdulikan lagi betapa dinginnya air sungai itu, setelah beberapa teguk tenggorokanku terasa sangat segar, selain meminum air sungai aku juga mencuci dahiku yang berdarah serta wajahku. Karena tanggung aku sekalian saja membasuh tubuhku juga, tapi akibatnya, setelah selesai aku menggigil karena sangat dingin, aku sedang berpikir bagaimana caranya agar tubuhku hangat.
"mendingan gue lari di tempat aja", pikirku. Kemudian aku mulai lari di tempat untuk menghangatkan tubuhku, setelah badanku sudah agak hangat, aku berhenti lari di tempat. Tiba-tiba aku mendengar suara dari semak-semak, aku langsung menoleh ke sumber suara itu dan melihat disana ada sekelompok serigala yang sedang mengintaiku, aku bingung harus bagaimana jadi aku langsung lari dari tempat itu, tentu saja para serigala itu langsung mengejarku ke dalam hutan. Ketika aku sudah terkejar oleh para serigala itu, aku menginjak perangkap jala dan aku langsung tertarik ke atas. Setidaknya aku selamat dari para serigala itu, dan aku bisa beristirahat sebentar.

Aku bangun ketika aku merasakan tangan dan kakiku diikat, setelah aku membuka mataku rupanya aku tangan dan kakiku diikat di kayu yang sedang digotong oleh 2 orang yang berkulit hitam. Aku merasa seperti hasil buruan yang baru ditangkap oleh mereka, aku hanya menutup mataku dengan pasrah karena aku mengira sebentar lagi aku akan dibunuh dan mungkin dimakan oleh mereka. Tak lama kemudian, tubuhku terasa berhenti bergoyang-goyang, aku membuka mataku melihat orang-orang berdiri mengelilingiku, lalu tubuhku ditaruh secara perlahan, dan ikatan di kaki dan tanganku dilepaskan. Baru aku berpikir untuk menerobos kerumunan orang-orang hitam yang mengelilingiku, tubuhku sudah diangkat oleh 2 orang yang membawaku tadi ke tiang kayu yang sangat besar dan terletak di atas tempat yang seperti panggung. Mereka mendirikanku disana dan mengikat pergelangan tangan dan kakiku lagi di tiang kayu itu, setelah mengikatku kedua orang hitam itu turun dari panggung dan masuk ke sebuah tenda berbentuk aneh yang kuduga tenda itu adalah rumah mereka.

Sementara aku seperti menjadi tontonan di atas panggung oleh orang-orang yang berdiri di depanku. Tubuhku yang putih mulus dapat terlihat jelas oleh mereka, dan karena mereka tidak memakai apa-apa aku bisa melihat penis para lelaki hitam itu mulai menegak karena melihat tubuhku, dan para wanitanya menelusuri setiap senti tubuhku, mulai dari wajah, payudara, perut, selangkangan, paha, sampai kakiku dengan mata mereka. Lalu dari sebuah tenda yang lebih besar dari tenda-tenda yang lain keluar 4 orang, 2 orang adalah orang yang tadi membawaku, 1 orang lagi badannya bungkuk dan membawa tongkat memakai baju dan celana, sedangkan 1 orang yang terakhir badannya tegap dan besar, dan memakai baju dan celana yang sepertinya terbuat dari bulu hewan. Mereka mendekat ke arahku, mereka berdiri disana menatap tubuhku dari kepala sampai kaki.
"zufubaba,,,,,gikaluno".
"tidak, jangan bunuh aku".
"fagira kohkulune,,,jaemkahuwaeti".
"tidak, jangan makan aku".

Karena aku tidak mengerti bahasa mereka, aku mengira mereka akan membunuh dan memakanku, tapi aku kaget ketika pria bungkuk itu berbicara.
"tenang saja, gadis muda. Kami tidak akan membunuhmu apalagi memakanmu".
"kamu bisa bahasa Indonesia?".
"ya, tapi kita bahas nanti saja".
"zokulafa,,,homura,,,pokeramu", kata pria bungkuk itu kepada semua orang, lalu semua orang itu pergi melakukan aktivitas yang lain, sementara 3 orang yang tadi datang bersama si pria bungkuk turun dari panggung dan masuk ke dalam tenda.
"ayo, nona, mari ikut saya ke rumah saya".
"baik, terima kasih pak". Lalu ikatanku dilepas dan dituntun masuk oleh pria bungkuk ke rumahnya, setelah di dalam aku disuguhi minuman dan makanannya lalu mengobrol dengannya.
"perkenalkan, nama saya Ulfsaar,, saya adalah seorang dukun di desa ini".
"namaku Rasti, ngomong-ngomong ini dimana?".
"ini di pulau Harla, pulau yang sangat terpencil".
"oooh begitu, tadi yang lain pada ngomong apa sih?".

"begini, nak Rasti dianggap dewi kesuburan dan juga dewi kekuatan".
"kok bisa kayak gitu?".
"iya, karena tubuh kamu yang putih mulus dan juga seksi, kepala suku jadi menganggap kamu adalah seorang dewi".
"kepala suku, maksud pak Ulfsaar yang memakai baju tadi?".
"ya, di desa ini yang boleh memakai baju dan celana hanya kepala suku dan juga dukun".
"oohh begitu,,".
"ngomong-ngomong kok kamu bisa sampai kesini?".
"kecelakaan pesawat, untungnya aku ditolong jadinya aku bisa selamat".
"terus, orang yang nolong kamu sekarang dimana?".
"udah meninggal, dibunuh ama orang-orang berkulit hitam yang pake topeng".
"pake topeng? Untung kamu bisa selamat".
"memang kenapa?".
"mereka adalah suku Kupo yang merupakan musuh suku kami yaitu suku Baro. Mereka adalah suku kanibal yang sudah banyak memakan anggota suku kami, jadi kami memutuskan untuk berperang dengan mereka 3 hari lagi".
"ooohh, begitu, untung aku bisa lari, tapi kalian gak kanibal kan?".
"gak, tenang aja kok".
"tenang deh, ngomong-ngomong bahasa indonesia pak Ulfsaar lancar banget?".
"saya punya teman yang tinggal di pulau Jawa".
"ooh, gitu".

"nona, boleh gak saya manggil nama kamu, terus pake aku-kamu?".
"boleh kok pak, oh ya aku kan jadi dewi terus gimana?".
"oh ya, aku hampir lupa, ayo aku antar kamu ke sungai buat mandi".
"mandi? Emangnya mau ada apa?".
"kepala suku ingin ngecek kamu dewi beneran atau gak".
"caranya?".
"kamu akan disetubuhi oleh kepala suku, kamu gak keberatan kan?".
"gak kok, aku malah seneng, tapi kenapa gak bapak aja yang ngetes aku?", balasku sambil menjilat pipinya.
"gak boleh, harus kepala suku yang pertama kali mencicipi tubuhmu baru aku dan semua pria dewasa di desa ini".
"semua pria....?".
"ya, dan rata-rata semua pria disini mempunyai penis yang ukurannya lebih dari 20 cm".
"waw, tapi aku masih bingung gimana caranya aku dianggap dewi beneran?".
"kepala suku akan menyetubuhimu dalam waktu 2 jam, jika dalam 2 jam kamu gak pingsan, kamu bakal dianggap dewi beneran".
"2 jam?! Kalau gitu aku bisa bener-bener puas donk".

"yaudah, aku cek vagina kamu dulu", lalu dia jongkok di depan vaginaku, dia melebarkan bibir vaginaku dari 2 jari kirinya, dan memasukkan 2 jari kanannya ke dalam vaginaku dan menggali dalam-dalam di vaginaku.
"hmm,, vagina kamu sangat sempit, pasti kepala suku bakalan suka, yaudah sekarang kamu mandi dulu". Kemudian aku dituntun keluar, orang-orang itu langsung menatapku, aku hanya tersenyum karena aku tidak bisa bahasa mereka. Di sungai, aku membasuh tubuhku yang lusuh dengan air sungai yang jernih dan menyegarkan sementara Ulfsaar menikmati pemandangan tubuh putih wanita cantik yang dibasuh dengan air, mungkin ini pemandangan paling indah yang pernah dilihat olehnya. Setelah mandi, Ulfsaar menuntunku kembali ke desa.
"Rasti, boleh gak aku ngeremes dada kamu?".
"loh, bukannya harus kepala suku dulu yang merawanin tubuhku?".
"kan cuma ngeremes doang, jadi boleh".
"kalau boleh sih, yaudah silakan".
"makasih, abisnya dada kamu montok banget". Lalu dia meremas-remas dadaku dan memelintir kedua putingku selama perjalanan.

Ketika sudah hampir masuk desa, dia berhenti meremas-remas payudaraku. Ternyata para suku Baro sudah menunggu di depan tempat yang seperti panggung itu sementara si kepala suku sudah berdiri di atas panggung itu seperti menantiku.
"oh ya, Rasti kepala suku bernama Utha". Kemudian dia menuntunku ke atas panggung, lalu menyerahkan tanganku ke Utha dan Ulfsaar turun dari panggung. Genderang drum berbunyi membuat irama musik yang membuatku bersemangat, Utha mulai mengelus-elus kepalaku, kemudian dia mulai melumat bibirku yang mungil dengan bibir tebal dan hitam miliknya, Utha memainkan lidahnya di dalam rongga mulutku, aku membalasnya dengan memainkan lidahku juga sehingga lidah kami saling membelit. Aku berciuman dengannya sangat lama seperti sepasang kekasih yang berpuluh-puluh tahun tidak bertemu. Setelah puas melumat bibirku, Utha melepaskan ciumannya sehingga terlihat ludah kami yang menyatu, kemudian dia mulai menurunkan ciumannya ke leher jenjangku, aku hanya menutup mataku untuk lebih meresapinya.

Ciumannya terus turun hingga sampai di payudaraku yang kenyal, Utha melumat senti demi senti dari bongkahan payudaraku, sementara putingku dihisap-hisap dan digigit kecil yang membuat putingku menjadi sangat keras. Setelah dia mulai menurunkan ciuman dan jilatannya lagi, aku bisa bekas-bekas merah di kulit payudaraku, ciuman Utha sampai di pusarku, dia menggelitikku dengan memainkan lidahnya di sekitar pusarku. Aku melihat orang-orang lain termasuk Ulfsaar sangat serius sekaligus terangsang melihat kepala suku mereka sedang asyik mengerjai tubuh putih seorang cewek muda yang sangat cantik. Akhirnya ciumannya sampai di vaginaku, Utha langsung memainkan klitorisku dengan lidahnya, tubuhku menggelinjang keenakan. Lidah Utha yang kasar membuat jilatannya jadi semakin terasa nikmat yang menjalar di seluruh tubuhku, dan juga dia menjilati bibir vaginaku serta menyentil-nyentil klitorisku dengan lidahnya, karena aku tidak kuat menahan rasa nikmat lagi, 5 menit kemudian aku orgasme.

Cairanku diseruput habis oleh Utha, setelah habis meminum cairanku.
"lafura zagofamu...".
"Rasti, kepala suku suka ama cairan kamu, manis banget katanya", aku hanya tersenyum. Sepertinya Utha sudah tidak sabar ingin menancapkan batang kejantanannya itu ke dalam vaginaku yang sangat sempit, lalu Utha mulai melepaskan celananya yang hanya berupa sepotong kain itu. Betapa terkejutnya aku, ternyata penis Utha lebih besar dibandingkan penis-penis yang pernah aku 'handle', aku mentaksir penis Utha mempunyai panjang 29 cm dan diameternya 10 cm. Pertamanya sih aku agak takut juga melihat penis sebesar itu, tapi aku juga jadi tidak sabar ingin merasakan kenikmatan dari penis perkasa itu. Lalu aku tidur terlentang di atas panggung sehingga vaginaku yang merah merekah terpampang jelas di hadapan orang-orang yang menonton, aku memberi isyarat dengan telunjukku kepada Utha seolah menantangnya untuk segera 'mencoblosku'.

Sepertinya Utha mengerti maksudku, karena dia langsung meletakkan kepala penisnya itu di depan bibir vaginaku. Dia mulai memasukkan kepala penisnya ke dalam vaginaku secara perlahan, biarpun kelihatan seram dan kekar rupanya dia tidak ingin membuat aku kesakitan mungkin juga karena aku dianggap dewi jadi dia takut kalau aku sampai marah. Seperti yang sudah kuduga, penisnya tidak bisa semuanya masuk ke dalam vaginaku, mungkin hanya 3/4 nya saja. Ketika terasa sudah tak bisa masuk lagi, Utha mulai memompa penisnya, aku merasa vaginaku menjadi bertambah lebar karena diameter penis Utha yang besar. Tapi, lama kelamaan rasa sakit itu hilang seiring dengan rasa nikmat yang semakin menjalar di tubuhku karena urat-urat penis Utha terus menerus bergesekan dengan dinding vaginaku. 15 menit kemudian, aku orgasme untuk yang kedua kalinya tapi Utha masih kelihatan tenang memompa vaginaku dan tentu saja sambil melumat bibir mungilku dan memainkan lidahnya di rongga mulutku, aku hanya bisa membiarkan lidahnya bermain di mulutku dan kubalas membelit lidahnya dengan lidahku.

Sudah sejam, si kepala suku Utha memompa penisnya di dalam vaginaku, aku sudah lebih dari 5 kali orgasme tapi dia belum orgasme. Akhirnya, beberapa menit kemudian aku merasakan urat-urat penisnya berdenyut di dalam vaginaku dan dia juga mempercepat sodokannya. Aku merasakan semburan spermanya sangat hangat dan juga sepertinya dia menyemburkan spermanya ke dalam vaginaku sampai lebih dari 7 kali sempuran sehingga aku merasakan spermanya meleleh keluar dari vaginaku. Setelah semburan spermanya berhenti, Utha beristirahat sebentar dengan penisnya yang sudah mulai mengecil masih tertanam di vaginaku. Kemudian, setelah nafasnya sudah tidak tersengal-sengal, dia mencabut keluar penisnya dari vaginaku, sementara aku yang sudah mengumpulkan tenagaku kembali langsung bangun dan mengulum penis Utha yang berlumuran dengan spermanya serta cairanku sendiri sehingga rasa sperma Utha dan cairanku bercampur sehingga tercipta rasa yang sangat kusukai.

Sambil kukulum, Utha bertolak pinggang dan menoleh ke Ulfsaar.
"hia,,,firaniho,,,ukani,,,paemi".
"hia,,,das parehotuma". Setelah aku melepaskan kulumanku, Utha langsung turun dari panggung dan masuk ke rumahnya.
"hia,,,pahorutami,,,farhu", kemudian orang-orang itu bersorak gembira.
"Ulfsaar, tolong ceritain dong, tadi kamu ngomong apaan aja".
"oh ya, aku lupa, gini,, kepala suku udah percaya kalau kamu seorang dewi kesuburan dan kekuatan".
"terus,, apaan lagi?".
"karena kamu udah dianggap dewi, jadi mulai sekarang kalau kepala suku udah selesai menyetubuhi kamu, aku dan semua laki-laki yang mulai umur 18 tahun harus menyetubuhi kamu juga".
"haaahh,, emang ada berapa cowok yang harus aku layani?".
"sekitar 20 orang,, kamu gak apa-apa?".
"gak apa-apa kok, aku malah seneng".
"yaudah Rasti, sekarang aku duluan ya". Ternyata penis Ulfsaar tidak sebesar penis Utha, penisnya hanya berukuran 18 cm dan diameternya 5 cm, tapi teknik memompanya lebih bervariasi.

Sudah 1 jam tubuhku digenjot oleh Ulfsaar, sudah beberapa kali aku orgasme, selain tekniknya bervariasi, dia juga menyelingi dengan mencumbuku serta menjilati kedua buah payudaraku. Tak disangka 1/2 jam ke depan, Ulfsaar masih getol memompa penisnya ke dalam vaginaku, sedangkan aku sudah mulai kelelahan akibat orgasme terus menerus. Akhirnya, Ulfsaar menyemburkan spermanya ke dalam vaginaku, aku menutup mataku untuk lebih merasakan hangatnya semburan sperma Ulfsaar di vaginaku. Seperti sebelumnya, aku melakukan 'cleaning service' ke penis Ulfsaar sambil mengumpulkan tenaga. Setelah penisnya sudah bersih, Ulfsaar mencabut penisnya dari mulutku.
"nah, Rasti, abis ini kamu bakal terus-terusan disetubuhi, kamu udah siap?".
"aku siap kapan aja kok, asalkan ada selang waktunya". Kemudian, Ulfsaar turun dari panggung dan mulailah tubuhku digunakan oleh orang-orang hitam itu untuk memuaskan nafsu mereka dan vaginaku dijadikan tempat pembuangan sperma mereka.

Tubuhku dilanda orgasme terus menerus, tapi aku masih kuat karena masih ada selang waktu antara satu laki-laki dengan laki-laki yang lain sehingga aku bisa mengatur nafas dan mengumpulkan tenaga sebelum melayani laki-laki yang selanjutnya. Penis yang tertanam di vaginaku bermacam-macam ukuran mulai dari kecil, sedang, maupun sangat besar meskipun tidak sebesar penis Utha. Setelah semuanya selesai dan matahari sudah muncul, Ulfsaar memapahku untuk berjalan ke rumahnya, aku berjalan dengan sperma yang menetes dari daerah selangkanganku karena daerah itu benar-benar dibanjiri sperma. Akhirnya, aku sampai di dalam rumah Ulfsaar, kemudian aku dibaringkan di tempat tidurnya, dengan telaten, Ulfsaar membersihkan daerah selangkanganku yang 'kebanjiran' sperma. Sementara, aku sudah sangat kelelahan sehingga aku menutup mataku dan lalu tidur. Aku membuka mataku dan melihat Ulfsaar sudah tidak ada, aku bangkit dari tempat tidur Ulfsaar dan keluar, ternyata matahari sudah mencuat di atas.

Ketika aku keluar dari rumah, warga sekitar menyapaku dengan bahasa mereka, aku hanya bisa tersenyum karena aku tidak mengerti bahasa mereka. Aku merasa badanku gatal-gatal, aku memutuskan untuk mandi di sungai terdekat, sungai yang ditunjukkan Ulfsaar waktu itu. Ternyata, Ulfsaar sedang melakukan sesuatu di tepi sungai.
"Ulfsaar, kamu lagi ngapain?".
"oohh, aku lagi bikin ramuan".
"ramuan apaan? Kok aneh gitu sih".
"ini, ramuan buat kamu".
"buat aku?".
"iya, kepala suku ingin minum susu kamu".
"susu aku?? gimana caranya, kan aku belum pernah hamil?".
"makanya, aku bikin ramuan ini, supaya kamu bisa ngeluarin susu".
"terus, ada manfaat lain gak?".
"ada, kulit kamu jadi putih 'n kencang, dan payudaramu tetep kenceng, tapi payudara kamu bisa membesar".
"mantep banget khasiatnya, tapi payudaraku bisa sampai seberapa gede?".
"38C mungkin, kamu gak apa-apa kan?".
"38C?! Ya gak apa-apa, kebetulan aku juga lagi pengen ngegedein dada aku, tapi ada efek negatifnya gak?".
"kalau ramuan ini, gak ada efek negatifnya".
"yaudah, sini aku minum". Kemudian aku meminum ramuan itu.

"kok rasanya hambar?".
"iya, sebenarnya rasa ramuan itu pahit, tapi aku tambahin madu biar gak pahit".
"ooh gitu, yaudah aku mandi dulu ya". Kemudian, aku mulai membilas tubuh putihku dengan air sungai yang dingin dan menyegarkan itu. Aku sengaja sedikit membilas tubuhku dengan agak menggoda agar Ulfsaar menjadi bernafsu, benar dugaanku Ulfsaar langsung mendekatiku dan mendekap tubuhku dari belakang, lalu menciumi leherku dan sekitar kupingku.
"udah, mendingan kita mandi bareng aja yuk, mau gak?".
"yaudah, aku buka baju dulu ya". Dalam sekejap, Ulfsaar sudah telanjang bulat. Tubuhnya yang hitam dan sudah bungkuk serta penisnya yang sudah menegang itu terpampang jelas di hadapanku. Kemudian, Ulfsaar mendekati tubuh putihku yang tidak terbalut apa-apa dan langsung memelukku, aku juga membalasnya dengan memeluknya. Lalu kami berdua saling mencumbu, sementara kedua tangannya memegangi bongkahan pantatku sambil memasukkan jarinya ke dalam lubang anusku.

"Rasti, kayaknya pantat kamu sempit banget ya".
"emang kenapa, bapak mau coba?".
"mau banget sih, tapi harus kepala suku dulu yang merawanin pantat kamu".
"oh ya, aku lupa, yaudah tusuk vaginaku aja".
"tapi sebelumnya, aku mau ngerasain vagina kamu dulu".
"yaudah, aku tiduran dulu". Kemudian aku tiduran dan melebarkan kakiku untuk memberikan akses pada Ulfsaar. Tanpa disuruh lagi Ulfsaar langsung membenamkan wajahnya ke selangkanganku, dan langsung menjilati daerah sekitar vaginaku, aku baru sadar kalau lidah Ulfsaar sangat panjang. Ulfsaar menjilati bibir vaginaku mulai dari kiri ke kanan, menjilati klitorisku, dan juga menjilati vaginaku dari atas ke bawah, serta memasukkan lidahnya yang panjang itu ke dalam lubang vaginaku. Aku menggelinjang kesana kemari karena tekstur lidah Ulfsaar yang kasar menambah sensasi nikmat di vaginaku, belum lagi lidahnya bisa masuk ke dalam vaginaku, sehingga lidahnya yang panjang itu bisa menyentuh dinding vaginaku dan pastinya itu menambah kenikmatan.

5 menit kemudian, tubuhku mengejang ke atas menandakan tubuhku mengalami orgasme.
"aaakkkhhh,,,,aku,,,keluaaar!!". Ulfsaar tidak membuang waktu lagi, cairanku langsung diseruput habis olehnya, dan juga setelah cairanku habis diminum olehnya, Ulfsaar masih menyedot-nyedot vaginaku hingga tetes terakhir, setelah cairan vaginaku benar-benar habis diminumnya, Ulfsaar bangun.
"kamu kayak orang aus aja, sampai disedot-sedot kayak gitu".
"abisnya, cairan kamu manis banget kayak madu".
"ah, kamu berlebihan".
"bener kok, aku jadi ketagihan, boleh lagi gak?".
"boleh kok, pokoknya tubuhku boleh diapain aja ama kamu".
"yaudah,,, aku jilatin vaginamu lagi ya".
"tapi sekarang kamu yang tiduran, soalnya aku juga pengen ngerasain penis kamu". Lalu, Ulfsaar tiduran di atas tanah dan aku tidur di atas tubuhnya dan mengambil posisi 69 sehingga vaginaku di depan mukanya, dan juga penis Ulfsaar menantang tegak di depan wajahku. Langsung aja, aku masukkan penis Ulfsaar ke dalam mulutku, sementara vaginaku sudah mulai dijilati lagi oleh Ulfsaar.

Aku mulai menjilati batang penisnya, kepala penisnya, dan buah zakarnya. 4 menit kemudian, aku orgasme lagi dan cairanku diminum oleh Ulfsaar sampai habis.
"yuk, Rasti, aku udah gak tahan pengen nusuk kamu".
"yaudah, kamu tetep tiduran aja, biar aku yang kerja duluan nanti baru kamu". Aku berdiri di atas penisnya, dan mulai menurunkan tubuhku secara perlahan, dengan tuntunan tanganku, penis Ulfsaar menerobos masuk ke dalam vaginaku. Aku menggerakkan tubuhku naik turun, dan juga kadang-kadang aku menurunkan tubuhku agar aku bisa mencumbu Ulfsaar. Setiap 30 menit, kami berganti posisi, dan setelah 1 1/2 jam kami bersetubuh akhirnya penis Ulfsaar mulai berdenyut, aku memintanya untuk menyemburkan spermanya di dalam mulutku. Setelah penisnya dicabut, aku langsung mengulum penisnya. Kuemut kepala penisnya, kusentil-sentil lubang kencingnya dan kadang-kadang kujilati buah zakarnya, akhirnya hadiah yang kutunggu-tunggu keluar juga.

Sperma hangat Ulfsaar langsung menyemprot ke dalam mulutku yang langsung kutelan habis, setelah habis aku masih mengulum penisnya untuk mendapatkan sisa-sisa sperma yang ada di lubang kencingnya. Kemudian aku melepaskan penisnya yang sudah mulai mengecil, dan aku melihat suatu barang di tepi sungai.
"Ulfsaar, benda apa itu?".
"aku tidak tau, aku menemukannya di pantai".
"ah, itu tasku", dengan segera aku menghampiri tasku, tapi tidak ada baju karena semua bajuku ada di koper bukan di tas. Tasku hanya berisi pil pencegah kehamilan, hpku, dan alat-alat kosmetikku. Tapi, sayangnya hpku rusak karena terendam air, hilang sudah harapanku untuk bisa pulang.
"Rasti, kita balik ke kampung yuk".
"emangnya, mau ada apaan lagi?".
"habis ini, kepala suku bakal merawanin anus kamu, dan setelah itu semua laki-laki akan menyodok anus kamu".
"kalau gitu, aku minum obat dulu ya, biar aku gak hamil".
"oo, yaudah". Kemudian aku merogoh tas kecilku dan menemukan obat, ternyata selain pil pencegah kehamilanku, ada pil obat kuat milik Mang Ucup waktu itu yang bisa membuatku segar terus menerus meskipun aku terus menerus orgasme.

"Ulfsaar, abis aku minum obat ini, aku bakal pingsan, kamu gendong aku balik ke pemukiman ya".
"yaudah, ok". Kemudian, aku minum obat kuat Mang Ucup dan juga pil pencegah kehamilanku. Dalam waktu 5 menit, kepalaku pusing dan langsung pingsan, aku sudah tidak sadarkan diri. Dan sebentar lagi tubuhku akan menjadi sarana pelampiasan nafsu suku Baro.



BONUS

Pergaulan Dengan Bule
Gadis Lugu
Cuma Pake CD

Aduh... Akang...

3 komentar
Aku pun tak keberatan. Akhirnya mereka tinggal bersamaku. Semuanya berjalan normal saja. Tak ada permasalahan di antara kami semua, sampai suatu malam ketika aku sedang melakukan hal 'rutin' terperanjat setengah mati saat kusadari ternyata aku tidak sedang bermimpi bercumbu dengan suamiku. Sebelum sadar, aku merasakan kenikmatan yang luar biasa sekali. Terasa lain dengan khayalanku selama ini. Apalagi ketika putting payudaraku dijilat dan dihisap-hisap dengan penuh gairah. Aku sampai mengerang saking nikmatnya. Rangsangan itu semakin bertambah hebat menguasai diriku. Kecupan itu semakin menggila, bergerak perlahan menelusuri perutku terus ke bawah menuju lembah yang ditumbuhi semak-semak lebat di sekitar selangkanganku. Aku hampir berteriak saking menikmatinya. Ini merupakan sesuatu yang baru, yang tak pernah dilakukan oleh suamiku. Bahkan dalam mimpipun, aku tak pernah membayangkan sampai sejauh itu. Di situlah aku baru tersadar. Terbangun dari mimipiku yang indah. Kubuka mataku dan melirik ke bawah tubuhku untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Mataku yang masih belum terbiasa dengan keadaan gelap ruangan kamar, melihat sesuatu bergerak-gerak di bawah sana, di antara kedua pahaku yang terbuka lebar.

"Aduh kenapa sih ini.." gumamku setengah sadar sambil menjulurkan tanganku ke bawah sana.
Tanganku memegang sesuatu seperti rambut. Kuraba-raba dan baru kutahu bahwa itu adalah kepala seseorang. Aku kaget. Dengan refleks aku bangun dan merapat ke ujung ranjang sambil mencoba melihat apa terjadi. Setelah mataku terbiasa dengan kegelapan, kulihat di sana ternyata seseorang tengah merayap ke atas ranjang. Aku semakin kaget begitu kutahu orang itu adalah Kang Hendi, kakak iparku!

Saking kagetnya, aku berteriak sekuat tenaga. Tetapi aku tak mendengar suara teriakan itu. Kerongkonganku serasa tersekat. Hanya mulutku saja yang terbuka, menganga lebar-lebar. Kedua mataku melotot seakan tak percaya apa yang kulihat di hadapanku adalah Kang Hendi yang bertelanjang dengan hanya memakai cawat.

Kang Hendi menghampiri sambil mengisyaratkan agar jangan berteriak. Tubuhku semakin mepet ke ujung dinding. Takut, marah dan lain sebagainya bercampur aduk dalam dihatiku melihat kehadirannya di kamarku dalam keadaan setengah telanjang seperti itu.
"Kang! Lagi apa..?" hanya itu yang keluar dari mulutku sementara tanganku sibuk membenahi pakaianku yang sudah tak karuan.
Aku baru sadar ternyata seluruh kancing baju tidurku semuanya terlepas dan bagian bawahnya sudah terangkat sampai ke pinggang. Untungnya saja celana dalamku masih terpakai rapi, hanya dadaku saja yang telanjang. Aku buru-buru menutupi ketelanjangan dadaku karena kulihat mata Kang Hendi yang liar nampaknya tak pernah berkedip menatap ke arah sana.

Saking takutnya aku tak bisa ngomong apa-apa dan hanya melongo melihat Kang Hendi semakin mendekat. Ia lalu duduk di bibir ranjang sambil meraih tanganku dan membisikan kata-kata rayuan bahwa aku ini cantik namun kurang beruntung dalam perkawinannya. Dadaku serasa mau meledak mendengar ucapannya. Apa hak dia untuk mengatakan semua itu? Aku tak butuh dengan belas kasihannya. Kalau saja aku tidak ingat akan istrinya, yang merupakan kakakku sendiri. Sudah kutampar mulut lancangnya itu. Apalagi ia sudah berani-berani masuk ke dalam kamarku malam-malam begini.

"Neng.." panggilnya dengan suara parau.
"Akang kasihan lihat Neng Sally. Akhir-akhir ini kelihatannya semakin menderita saja" ucapnya kemudian.
"Akang tahu dari mana saya menderita" sergahku dengan mata mendelik.
"Eh.. jangan marah ya. Itu.. nggh.. Akang.. anu.." katanya dengan ragu-ragu.
"Ada apa kang?" tanyaku semakin penasaran sambil menatap wajahnya lekat-lekat.
"Anu.. eh, Akang lihat kamu selalu kesepian. Lama ditinggal suami, jadi Akang ingin Bantu kamu" katanya tanpa malu-malu.
"Maksud Akang?"
"Ini.. Akang, maaf neng.., pernah lihat Neng Sally kalau lagi tidur suka.." ungkapnya setengah-setengah.
"Jadi Akang suka ngintip saya?" tanyaku semakin sewot.
Kulihat ia mengangguk lemah untuk kemudian menatapku dengan penuh gairah.
"Akang ingin menolong kamu" bisiknya hampir tak terdengar.

Kepalaku serasa dihantam petir mendengar pengakuan dan keberaniannya mengungkapkan isi hatinya. Sungguh kurang ajar lelaki ini. Berbicara seperti itu tanpa merasa bersalah. Dadaku serasa sesak oleh amarah yang tak tersalurkan. Aku terdiam seribu bahasa, badanku serasa lemas tak bertenaga menghadapi kenyataan ini. Aku malu sekali pelampiasanku selama ini diketahui orang lain. Aku tak tahu sampai sejauh mana Kang Hendi melihat rahasia di tubuhku. Aku tak ingin membayangkannya.
Kang Hendi tidak menyerah begitu saja melihat kemarahanku. Kebingunganku telah membuat diriku kurang waspada. Aku tak tahu sejak kapan Kang Hendi merapatkan tubuhnya kepadaku. Aku terjebak di ujung ranjang. Tak ada jalan bagiku untuk melarikan diri. Semuanya tertutup oleh tubuhnya yang jauh lebih besar dariku. Aku menyembunyikan kepalaku ketika ia merangkul tubuhku. Tercium aroma khas lelaki tersebar dari tubuh Kang Hendi. Aku rasakan otot-otot tubuhnya yang keras menempel di tubuhku. Kedua tangannya yang kekar melingkar sehingga tubuhku yang jauh lebih mungil tertutup sudah olehnya. Aku berontak sambil mendorong dadanya. Kang Hendi malah mempererat pelukannya. Aku terengah-engah dibuatnya. Tenagaku sama sekali tak berarti dibanding kekuatannya. Nampaknya usaha sia-sia belaka melawan tenaga lelaki yang sudah kesurupan ini.

"Kang inget.. saya kan adik Akang juga. Lepasin saya kang. Saya janji nggak akan bilang sama teteh atau siapa aja.." pintaku memelas saking putus asanya.
Hibaanku sama sekali tak dihiraukan. Kang Hendi memang sudah kerasukan. Wajahku diciumi dengan penuh nafsu bahkan tangannya sudah mulai menarik-narik pakaian tidurku. Aku berusaha menghindar dari ciuman itu sambil menahan pakaianku agr tak terbuka. Kami berkutat saling bertahan. Kudorong tubuh Kang Hendi sekuat tenaga sambil terus-terusan mengingatkan dia agar menghentikan perbuatannya. Lelaki yang sudah kerasukan ini mana bisa dicegah, justru sebaliknya ia semakin garang. Pakaian tidurku yang terbuat dari kain tipis tak mampu menahan kekuatan tenaganya. Hanya dengan sekali sentakan, terdengar suara pakaian dirobek. Aku terpekik kaget. Pakaianku robek hingga ke pinggang dan memperlihatkan dadaku yang sudah tak tertutup apa-apa lagi.

Kulihat mata Kang Hendi melotot menyaksikan buah dadaku yang montok dan kenyal, menggelantung indah dan menggairahkan. Kedua tanganku dengan cepat menutupi ketelanjanganku dari tatapan liar mata lelaki itu. Upayaku itu membuat Kang Hendi semakin beringas. Ia marah dan menarik kedua kakiku hingga aku terlentang di ranjang. Tubuhnya yang besar dan kekar itu langsung menindihku. Nafasku sampai tersengal menahan beban di atas tubuhku.

"Kang jangan!" cegahku ketika ia membuka tangannku dari atas dadaku.

Kedua tanganku dicekal dan dihimpit masing-masing di sisi kepalaku. Dadaku jadi terbuka lebar mempertontonkan keindahan buah dadaku yang menjulang tegar ke atas. Kepalaku meronta-ronta begitu kurasakan wajahnya mendekat ke atas dadaku. Kupejamkan mataku. Aku tak ingin menyaksikan bagian tubuhku yang tak pernah tersentuh orang lain kecuali suamiku itu, dirambah dengan kasar oleh Kang Hendi. Aku tak rela ia menjamahnya. Kucoba meronta di bawah himpitan tubuhnya. Sia-sia saja. Air mataku langsung menetes di pipi. Aku tak sanggup menahan tangisku atas perbuatan tak senonoh ini.

Kulihat wajah Kang Hendi menyeringai senang melihatku tak meronta lagi. Ia terus merayuku sambil berkata bahwa dirinya justru menolong diriku. Ia, katanya, akan berusaha memberikan apa yang selama ini kudambakan.
"Kamu tenang aja dan nikmati. Akang janji akan pelan-pelan. Nggak kasar asal kamu jangan berontak.." katanya kemudian.

Aku tak ingin mendengarkan umbaran bualan dan rayuannya. Aku tak mau Kang Hendi mengucapkan kata-kata seperti itu, karena aku tak rela diperlakukan seperti ini. Aku benar-benar tak berdaya di bawah kekuasaannya. Aku hanya bisa terkulai pasrah dan terpaksa membiarkan Kang Hendi menciumi wajahku sesuka hati. Bibirnya dengan leluasa mengulum bibirku, menjilati seluruh wajahku. Aku hanya diam tak bergerak dengan mata terpejam.

Hatiku menjerit merasakan cumbuannya yang semakin liar, menggerayang ke leher dan teus turun ke atas dadaku. Aku menahan nafas manakala bibirnya mulai menciumi kulit di seputar buah dadaku. Lidahnya menari-nari dengan bebas menelusuri kemulusan kulit buah dadaku. Kadang-kadang lidahnya menjentik sekali-sekali ke atas putingku.
"Nggak rela.. nggak rela..!" jeritku dalam hati.

Kudengar nafasnya semakin menderu kencang. Terdengar suara kecipakan mulutnya yang dengan rakus melumat seluruh payudaraku yang montok. Seolah ingin merasakan setiap inci kekenyalannya. Aku seakan terpana oleh cumbuannya. Hatiku bertanya-tanya. Apa yang sedang terjadi pada diriku. Kemana tenagaku? Kenapa aku tidak berontak? Kenapa membiarkan Kang Hendi berbuat semaunya padaku? Aku mendengus frustrasi oleh perasaanku sendiri. Aku benci pada diriku sendiri yang begitu mudah terpedaya oleh kelihaiannya bercumbu. Terjadi konflik bathin dalam diriku. Di satu sisi, aku tak ingin diriku menjadi sasaran empuk nafsu lelaki ini. Aku adalah seorang wanita bersuami. Terpandang. Memiliki kehormatan. Aku bukanlah wanita murahan yang dapat sesuka hati mencari kepuasan. Tetapi di sisi lain, aku merasakan suatu desakan dalam diriku sendiri. Suatu keinginan yang begitu kuat, meletup-letup tak terkendali. Kian lama kian kuat desakannya. Tubuhku sampai berguncang hebat merasakan perang bathin ini. Aku tak tahu mana yang lebih kuat. Bukankah perasaan ini yang kuimpikan setiap malam?

Tanpa sadar dari bibirku meluncur desisan dan rintihan lembut. Meski sangat perlahan, Kang Hendi dapat mendengarnya dan merasakan perubahan yang terjadi dari tubuhku. Ia ersenyum penuh kemenangan. Ia nampak begitu yakin bahwa aku akan menyerah kepadanya. Bahkan kedua cekalan tangannya pada tanganku pun dilepaskan dan berpindah ke atas buah dadaku untuk meremasnya. Ia sangat yakin aku tak akan berontak meski tanganku sudah terbebas dari cekalannya.

Memang tak dapat dipungkiri keyakinan Kang Hendi ini. Aku sendiri tidak memanfaatkan terbebasnya tanganku untuk mendorong tubuhnya dari atasku. Aku malah menaruhnya di atas kepala Kang Hendi yang bergerak bebas di atas dadaku. Tanganku malah meremas rambutnya, menekan kepalanya ke atas dadaku.

"Kang udah.. jangaann..!" rintihku masih memintanya berhenti.
Oh sungguh munafik sekali diriku! Mulutku terus-terusan mencegah namun kenyataannya aka malah mendorongnya untuk berbuat lebih jauh lagi. Akal sehatku sudah hilang entah kemana. Aku sudah tak ingat akan suamiku, kakakku, atau diriku sendiri. Yang kuingat hanyalah rangsangan dahysat akibat jilatan dan kuluman bibir Kang Hendi di seputar putingku. Tangannku menggerayang di atas punggungnya. Meraba-raba kekerasan otot-otot pejalnya. Aku semakin terbang melayang, membayangkan keperkasaannya. Inikah jawaban atas semua mimpi-mimpiku selama ini? Haruskah semua ini kulakukan? Meski dengan kakak iparku sendiri? Apakah aku harus mengorbankan semuanya? Pengkhianatan pada suamiku? Kakakku? Hanya untuk memuaskan keinginanku seorang? Aakkhh.. tidak.. tidak! jeritku mengingat semua ini.

"Akaangg..!" jeritku lirih tak sadar memanggil namanya saat puting susuku disedot kuat-kuat.
Aku menggelinjang kegelian. Sungguh nikmat sekali hisapan itu. Luar biasa. Kurasakan selangkanganku mulai basah, meradang. Tubuhku menggeliat-geliat bagai ular kepanasan mengimbangi permainan lidah dan mulut Kang Hendi di buah dadaku yang terasa semakin menggelembung keras.

"Oohh Neng.. bagus sekali teteknya. Akang suka sekali.. mmpphh.. wuiiihh.. montok banget" komentar Kang Hendi.
Sebenarnya hatiku tak menerima ucapan-ucapan kotor yang keluar dari mulut Kang Hendi. Sepertinya aku ini wanita murahan, yang biasa mengobral tubuhnya hanya demi kepuasan lelaki hidung belang. Tetapi perasaan itu akhirnya tertutup oleh kemahirannya dalam mencumbu diriku. Tubuhku sepertinya menyambut hangat setiap kecupan hangat bibirnya. Badanku melengkung dan dadaku dibusungkan untuk mengejar kecupan bibirnya. Nampaknya justru akulah yang menjadi agresif. Liar seperti kuda binal yang baru lepas kandang.

"Mmpphh.. Neng Sally.. kalau saja Akang dari dulu tahu. Tentunya Neng nggak perlu lagi gelisah tiap malam sendirian. Akang pasti mau nemenin semalamam.." celoteh Kang Hendi seakan tak tahu betapa malunya diriku mendengar ucapan itu.
Aku sudah tak perduli lagi dengan celotehan tak senonohnya. Aku sudah memutuskan untuk menikmati apa yang sedang kunikmati saat ini. Kudorong kepala kang Hendi ke bawah menyusur perutku. Aku ingin merasakan seperti saat kubermimpi tadi. Rupanya Kang Hendi mengerti keinginanku. Dengan nafsu menggebu-gebu, ia mulai bergerak. Kedua tangannya menelusup ke bawah tubuhku, mencekal pinggangku. Mengangkat pinggulku sedikit kemudian tangannya ditarik ke bawah meraih tepian celana dalamku dan memelorotkannya hingga terlepas dari kedua kakiku. Aku mengikuti apa yang ia lakukan. Aku kini sudah terbebas. Pakaian tidurku entah sudah tercampak dimana. Tubuhku sudah telanjang bulat, tanpa sehelai benangpun yang menghalangi.

Kulirik Kang Hendi terbelalak memandangi ketelanjanganku. Ia seolah tak percaya dengan apa yang ada dihadapan matanya kini. Gairahku seakan mau meletup melihat tatapan penuh pesona mata Kang Hendi. Membuatku demikian tersanjung. Aku bangga dikarunia bentuk tubuh yang begitu indah. Kedua dadaku membusung penuh, keras dan kenyal. Perutku ramping dan rata. Pinggulku memiliki lekukan yang indah dan pantatku bulat penuh, menungging indah. Kedua kakiku panjang dan ramping. Mulai dari pahaku yang gempal dan bentuk betisku yang menggairahkan.

Mungkin kang Hendi tak pernah mengira akan keindahan tubuhku ini karena memang sehari-hari aku selalu menggunakan pakaian yang tidak pernah menonjolkan lekukan tubuhku. Aku bisa membayangkan bagaimana terkagum-kagumnya Kang Hendi melihatku dalam keadaan telanjang bulat.

"Neng.. kamu cantik sekali. Sempurna.. oohh indah sekali. Mmhh.. teteknya montok dan aakkhh.. lebat sekali.." puji Kang Hendi tak henti-hentinya menatap selangkanganku yang dipenuhi bulu hitam lebat, kontras dengan warna kulitku yang putih bersih.

Mataku melirik ke bawah melihat tonjolan keras di balik cawatnya. Uugghh.. kurasakan dadaku berdegub, selangkanganku berdenyut dan semakin membasah oleh gairah membayangkan batang keras dibalik cawatnya. Gede sekali dan panjang! Lenguhku dalam hati sambil menahan rangsangan hebat.

"Kaanngg.. ngghh.. jangan ngeliatin aja. Khan malu.." rengekku manja dengan gaya mulai bergenit-genit.
Seakan baru tersadar dari keterpesonaannya, Kang Hendi lalu mulai beraksi.
"Abisnya cantik sekali kamu sih, Neng" katanya kemudian seraya melepaskan cawatnya hingga ia pun kini sama-sama telanjang.

Kulihat batang kontolnya yang keras itu meloncat keluar seperti ada pernya begitu lepas dari kungkungan cawatnya. Mengacung tegang dengan gagahnya. Aku terbelalak melihatnya. Benar saja besar dan panjang. Kulihat otot-ototnya melingkar di sekujur batang itu. Aku sudah tak sabar ingin merasakan kekerasannya dalam genggamanku. Terus terang baru kali ini aku melihat ****** selain milik suamiku. Dan apa yang dimiliki kang Hendi membuat punya suamiku seperti milik anak kecil saja. Lagi-lagi aku membanding-bandingkan. Buru-buru pikiran itu kubuang. Aku lebih suka menyambut kedatangan Kang Hendi menindih tubuhku lagi.
Kini aku langsung menyambut hangat ciumannya sambil merangkulnya dengan erat. Ciuman Kang Hendi benar-benar menghanyutkan. Aku dibuatnya bergairah. Apalagi kurasakan gesekan ****** yang keras di atas perutku semakin membuat gairahku meledak-ledak. Kang Hendi lalu kembali menciumi buah dadaku. Kali ini kusodorkan dengan sepenuh hati. Kurasakan hisapan dan remasannya dengan penuh kenikmatan. Tanganku mulai berani lebih nakal. Menggerayang ke sekujur tubuhnya, bergerak perlahan namun pasti ke arah batangnya. Hatiku berdesir kencang merasakan batang nan keras itu dalam genggamanku. Kutelusuri mulai dari ujung sampai pangkalnya. Jemariku menari-nari lincah menelusuri urat-urat yang melingkar di sekujur batangnya. Kukocok perlahan dari atas ke bawah dan sebaliknya. Terdengar Kang Hendi melenguh perlahan. Kuingin ia merasakan kenikmatan yang kuberikan. Ujung jariku menggelitik moncongnya yang sudah licin oleh cairannya. Lagi-lagi Kang Hendi melenguh. Kali ini lebih keras.

Tiba-tiba saja ia membalikkan tubuhnya. Kepalanya persis berada di atas selangkanganku sementara miliknya persis di atas wajahku. Kulihat batangnya bergelantungan, ujungnya menggesek-gesek mulutku. Entah dari mana keberanianku muncul, mulutku langsung menangkap kontolnya. Kukulum pelan-pelan. Sesungguhnya aku tak pernah melakukan hal ini kepada suamiku sebelumnya. Aku tak mengerti kenapa aku bisa berubah menjadi binal, tak ada bedanya dengan perempuan-perempuan nakal di jalanan. Namun aku tak peduli. Aku ingin merasakan kebebasan yang sebenar-benarnya. Kuingin semua naluriku melampiaskan fantasi-fantasi liar yang ada dalam diriku. Kuingin menikmati semuanya.

Kang Hendi tak mau kalah. Lidahnya menjulur menelusuri garis memanjang bibir kemaluanku. Aku terkejut seperti terkena listrik. Tubuhku bergetar. Kurasakan darahku berdesir kemana-mana. Lidah Kang Hendi bermain lincah. Menjilat, menusuk-nusuk, menerobos rongga rahimku. Aku seperti melayang-layang di atas awan. Ini merupakan pengalaman yang luar biasa selama hidupku. Aku tak pernah merasakan dijilati seperti itu sebelumnya. Nikmatnya sungguh tak terkira. Pinggulku tak bisa diam, mengikuti kemana jilatan lidah Kang Hendi berada.

Tubuhku seperti dialiri listrik berkekuatan tinggi. Gemetar menahan desakan kuat dalam tubuhku. Rasanya aku tak tahan menerima kenikmatan ini. Perutku mengejang. Kakiku merapat, menjepit kepala Kang Hendi. Seluruh otot-ototku menegang. Jantungku serasa berhenti. Aku berkutat sekuat tenaga sampai akhirnya ku tak mampu lagi dan langsung melepaskannya diiringi jeritan lirih dan panjang. Tubuhku menghentak berkali-kali mengikuti semburan cairan hangat dari dalam liang memekku. Aku terhempas di atas ranjang dengan tubuh lunglai tak bertenaga. Puncak kenikmatan yang kucapai kali ini sungguh luar biasa dan dahysat. Aku merasa telah terbebas dari sesuatu yang sangat menyesakan dada selama ini.

"Oohh.. Kaanngg.. ngghh.. enak sekali.." rintihku tak kuasa menahan diri.
Aku sendiri tak sadar dengan apa yang kuucapkan. Sungguh memalukan sekali pengakuan atas kenikmatan yang kurasakan saat itu. Aku tak ingin Kang Hendi menilai rendah diriku. Ku tak ingin ia tahu aku sangat menikmati cumbuannya. Kulihat Kang Hendi tersenyum di bawah sana. Ia merasa sudah mendapatkan kemenangan atas diriku. Ia bangga dengan kehebatannya bercinta hingga mampu membuatku orgasme lebih dulu. Aku tak bisa berbuat banyak, karena harus kuakui bahwa diriku sangat membutuhkannya saat ini. Membutuhkan apa yang sedang kuggengam dalam tanganku. Benda yang tentunya akn memberikan kenikmatan yang lebih dari yang kudapatkan barusan.

Tanpa sadar jemariku meremas-remas kembali batang kontolnya. Kukocok perlahan dan kumasukan ke dalam mulutku. Kukulum dan kujilat-jilat. Kurasakan Kang Hendi meregang, merintih kenikmatan. Aku tersenyum melihatnya seperti itu. Aku ingin ia merasakan kenikmatan pula. Kenikmatan yang akan membuatnya memohon-mohon padaku. Kulumanku semakin panas. Lidahku melata-lata liar di sekujur batangnya. Aku bertekad untuk mengeluarkan air maninya secepat mungkin.

Terdengar suara selomotan mulutku. Kang Hendi merintih-rintih keenakan. Rasain, runtukku dalam hati dan mulai tak sabar ingin melihat air maninya menyembur keluar. Di atas tubuhku, Kang Hendi menggerakan pinggulnya seolah sedang bersenggama, hanya saja saat itu kontolnya menancap dalam mulutku. Kuhisap, kusedot kuat-kuat. Ia masih bertahan. Aku kembali berusaha tetapi nampaknya ia belum memperlihatkan tanda-tanda. Aku sudah mulai kecapaian. Mulutku terasa kaku. Sementara gairahku mulai bangkit kembali. Liang memekku sudah mulai mengembang dan basah kembali, sedangkan ****** Kang Hendi masih tegang dan gagah perkasa. Bahkan terasa lebih keras.

"Udah Neng. Ganti posisi aja.." kata Kang Hendi kemudian seraya membalikkan tubuhnya dalam posisi umumnya bersetubuh.
Kang Hendi memang piawai dalam bercinta. Ia tidak langsung menancapkan kontolnya ke dalam memekku, tetapi digesek-gesekan dulu di sekitar bibir kemaluanku. Ia sepertinya sengaja melakukan itu. Kadang-kadang ditekan seperti akan dimasukan, tetapi kemudian digeserkan kembali ke ujung atas bibir kemaluanku menyentuh kelentitku. Kepalanya digosok-gosokan. Aku menjerit lirih saking keenakan. Ngilu, enak dan entah apa lagi rasanya.
"Kaangg.. aduuhh.. udah kang! Sshh.. mmppffhh.. ayoo kang.. masukin aja.. nggak tahan!" pintaku menjerit-jerit tanpa malu-malu.

Aku sudah tak memikirkan lagi kehormatan diriku. Rasa gengsi atau apapun. Yang kuinginkan sekarang adalah ia segera mengisi kekosongan liang memekku dengan kontolnya yang besar dan panjang. Aku nyaris mencapai orgasme leagi hanya dengan membayangkan betapa nikmatnya ****** sebesar itu mengisi penuh liang memekku yang rapat.
"Udah nggak tahan ya, Neng" candanya sehingga membuatku blingsatan menahan nafsu. Kurang ajar sekali Kang Hendi ini. Ia tahu aku sudah dalam kendalinya jadi bisa mempermainkan perasaanku semau-maunya.

Aku gemas sekali melihatnya menyeringai seperti itu. Di luar dugaannya, aku langsung menekan pantatnya dengan kedua tanganku sekuat tenaga. Kang Hendi sama sekali tak menyangka hal ini. Ia tak sempat menahannya. Maka tak ayal lagi batang kontolnya melesak ke dalam liang memekku. Aku segera membuak kedua kakiku lebar-lebar, memberi jalan seleluasa mungkin bagi kontolnya. Aku berteriak kegirangan dalam hati, akhirnya ****** Kang Hendi berhasil masuk seluruhnya. Meski cukup menyesakkan dan membuat liang memekku terkuak lebar-lebar, tetapi aku puas dan lega karena keinginanku tercapai sudah.

Kulihat wajah Kang Hendi terbelalak tak menyangka akan perbuatanku. Ia melirik ke bawah melihat seluruh kontolnya terbenam dalam liangku. Aku tersenyum menyaksikannya.
Ia balas tersenyum, "Kamu nakal ya.." katanya kemudian.
"Awas, entar Akang bikin kamu mati keenakan. "
"Mau doongg.." jawabku dengan genit sambil memeluk tubuh kekarnya.

Kang Hendi mulai menggerakan pinggulnya. Pantatnya kulihat naik turun dengan teratur. Kadang-kadang digeol-geolkan sehingga ujung kontolnya menyentuh seluruh relung-relung vaginaku. Aku turut mengimbanginya. Pinggulku berputar penuh irama. Bergerak patah-patah, kemudian berputar lagi. Goyangan ini timbul begitu saja dalam benakku. Mungkin terlalu sering nonton penyanyi dangdut bergoyang di panggung. Tetapi efeknya sungguh luar biasa. Kang hendi tak henti-hentinya memuji goyanganku. Ia bilang belum pernah merasakan goyangan sehebat ini. Aku tambah bergairah. Pinggulku terus bergoyang tanpa henti sambil mengedut-edutkan otot vaginaku sehingga Kang Hendi merasakan ****** seperti diemut-emut.
"Akkhh Neengg.. eennaakkhh.., hebaathh.. uugghh.." erangnya berulang-ulang.

Kang Hendi mempercepat irama tusukannya. Kurasakan batang ****** besar itu keluar masuk liang memekku dengan cepatnya. Aku imbangi dengan cepat pula. Kuingin Kang Hendi lebih cepat keluar. Aku ingin membuatnya KO! Kami saling berlomba, berusaha saling mengalahkan. Kuakui permainan Kang Hendi memang luar biasa. Mungkin kalau aku belum sempat orgasme tadi, tentunya aku sudah keluar duluan. Aku tersenyum melihat Kang Hendi nampak berusaha keras untuk bertahan, padahal sudah kurasakan tubuhnya mulai mengejang-ngejang. Aku berpikir ia akan segera tumpah.

Pinggulku meliuk-liuk liar bak kuda binal. Demikian pula Kang Hendi, pantatnya mengaduk-aduk cepat sekali. Semakin bertambah cepat, sudah tidak beraturan seperti tadi. Aku terperangah karena tiba-tiba saja terasa aliran kencang berdesir dalam tubuhku. Akh.. nampaknya aku sendiri tidak tahan lagi. Memekku terasa merekah semakin lebar, kedua ujung putting susuku mengeras, mencuat berdiri tegak. Mulut Kang Hendi langsung menangkapnya, menyedotnya kuat-kuat. Menjilatinya dengan penuh nafsu. Aku membusungkan dadaku sebisa mungkin dan oohh.. rasanya aku tak kuat lagi bertahan.
"Kang Hendi! Cepet keluarin juga..!" teriakku sambil menekan pantatnya kuat-kuat agar mendesak selangkanganku.

Beberapa detik kemudian aku segera menyemburkan air maniku disusul kemudian oleh semprotan cairan hangat dan kental menyirami seluruh liang memekku. Tubuh Kang Hendi bergetar keras. Ia peluk diriku erat-erat. Aku balas memeluknya. Kami lalu bergulingan di ranjang merasakan kenikmatan puncak permainan cinta ini dengan penuh kepuasan. Kami merasakannya bersama-sama. Kami sudah tidak memperdulikan tubuh kami yang sudah basah oleh peluh keringat, bantal berjatuhan ke lantai. Sprei berantakan tak karuan, terlepas dari ikatannya. Eranganku, jeritan nikmatku saling bersahutan dengan geramannya. Kedua kakiku melingkar di seputar pinggangnya. Aku masih merasakan kedutan-kedutan batang ****** Kang Hendi dalam memekku.

Semenjak peristiwa di malam itu, aku dan Kang Hendi selalu mencari kesempatan untuk melakukannya kembali. Ia memang seorang lelaki yang benar-benar jantan. Begitu perkasa. Aku harus akui ia memang sangat pandai memuaskan wanita kesepian seperti diriku. Ia selalu hadir dalam dekapanku dengan gaya permainan yang berlainan. Aku tidak penah bosan melakukannya, selalu ada yang baru. Salah satu diantaranya, yang juga merupakan gaya favoritku, ia berdiri sambil memangku tubuhku. Kedua kakiku melingkar di pinggangnya, tanganku bergelayut di lehernya agar tak terjatuh. Selangkanganku terbuka lebar dan batang kontolnya menusuk dari bawah. Aku bergelayutan seperti dalam ayunan mengimbangi tusukan kontolnya. Kang Hendi melakukan semua itu sambil berjalan mengelilingi kamar dan baru berhenti di depan cermin. Saat kumenoleh kebelakang aku bisa melihat bayangan pantatku bergoyang-goyang sementara kontolnya terlihat keluar masuk memekku. Sungguh asyik sekali permainan dalam gaya ini.

Namun perselingkuhanku dengan Kang Hendi berlangsung tak begitu lama. Aku sudah sangat ketakutan semua ini suatu saat terungkap. Makanya aku memutuskan untuk pindah dari kampungku agar tidak bertemu lagi dengannya. Terus terang saja, setelah kejadian itu, justru akulah yang sering memintanya untuk datang ke kamarku malam-malam. Aku tak pernah bisa menahan diri. Apalagi kalau sudah melihatnya bercanda mesra dengan kakakku. Pernah suatu kali aku penasaran untuk mengintip mereka bercinta di kamarnya. Aku kebingungan sendiri sampai akhirnya lari ke kamar dan melakukannya sendiri hingga aku mencapai kenikmatan karena menunggu Kang Hendi jelas tak mungkin karena istrinya ada di rumah. Keadaan ini jelas tak mungkin berlangsung terus menerus, selain akan terungkap, akupun rasanya akan menderita harus bertahan seperti ini.

Dengan berat hati akhirnya aku pindah ke kota. Kujual semua hartaku, termasuk rumah tinggal, sawah dan ternak-ternak milikku untuk modal nanti di kehidupanku yang baru. Kecuali mobil karena kuanggap akan sangat berguna sebagai alat transportasi untuk menunjang kegiatanku nanti.


BONUS
Ibu X Sedar Diri
Anak SMA Semakin Kreatif
BackDoor

( Pesta Sex ) Wanita-wanita Frustrasi

0 komentar
Cerita ini terjadi sekitar 2 tahun yang lalu. Saat itu aku masih kuliah pada semester ke empat. Aku adalah seorang pria lajang 20 th dengan tinggi 175 cm berat 70 kg yang sedang kuliah di salah satu PTN di daerahku. Aku tinggal disebuah rumah bedeng 5 pintu dan aku berada pada pintu yang pertama. Kalau dibandingkan dengan teman-temanku, aku termasuk anak yang pemalu alias kuper (kurang pergaulan). Hal ini membuatku lebih betah berada di kosanku, oh ya di bedeng tersebut aku nge-kost, dari pada harus keluar rumah tanpa tujuan. Sesekali aku juga sering menonton film BF untuk memuaskan hasrat birahiku dan selalu berakhir dengan beronani.

Cukup sudah pengantarnya ok. Sekarang lanjut ke pengalaman pertamaku yang berawal dari tempat kost dimana aku tinggal. Disebelah (pintu no2) tinggal seorang wanita muda sekitar 25 tahun bernama Desi tinggi 160 berat 50 kg yang bersuamikan seorang supir taxi tetapi sudah 7 tahun belum dikarunia seorang anak. Pintu no3 ditempati oleh seorang wanita 35 tahun tinggi 165 berat 60 kg yang sudah memiliki 2 orang anak 7 dan 5 tahun yang semuanya perempuan, ia bernama Ita. Nah, dari sinilah semuanya berawal.

Seperti biasa pada pagi hari semua penghuni bedeng sibuk dibelakang (mandi, mencuci). Perlu diketahui bahwa kondisi di rumah ini memiliki 5 kamar mandi terpisah dari rumah dan 2 buah sumur (air harus diangkat ke kamar mandi, maklum yang punya rumah belum punya Sanyo). Aku yang sudah terbiasa mandi paling pagi sedang duduk santai sambil nonton TV. Lagi asik nonton terdengar olehku gemercik air seperti orang sedang mandi. Mulanya sih biasa saja, tapi lama kelamaan penasaran juga aku dibuatnya. Aku mencoba melihat dari balik celah pintu belakang rumahku, dan aduh!! betapa kagetnya aku ketika melihat Mbak Desi yang sedang mengeringkan tubuhnya dengan handuk. Aku tidak tahu mengapa ia begitu berani untuk membuka tubuhnya pada tempat terbuka seperti itu. Mbak desi yang sedikit kurus ternyata memiliki payudara sekitar 32b dan sangat seksi sekali. Dengan bentuknya yang kecil beserta puting warna merah jambu untuk orang yang sudah menikah bentuknya masih sangat kencang.

Aku terus mengamati dari balik celah pintu, tanpa kusadari batang kejantananku sudah mulai berdiri. Sudah tak tahan dengan pemandangan tersebut aku langsung melakukan onani sambil membayangkan bercinta dengan Mbak desi ditempat terbuka tersebut. Semenjak hal itu, aku jadi ketagihan untuk selalu mengintip jika ada kesempatan. Keesokan harinya, aku masih sangat terbayang-bayang akan bentuk tubuh Mbak desi. Hari itu adalah hari minggu, dan aku sedikit kesiangan. Ketika aku keluar untuk mandi, aku melihat Mbak Ita sedang mencuci pakaian. Dengan posisinya yang menjongkok terlihat jelas olehku belahan payudaranya yang terlihat sudah agak kendor tapi berukuran 34 b. Setiap kali aku memperhatikan pantatnya, entah mengapa aku langsung bernafsu dibuatnya (mungkin pengaruh film BF dengan doggy style yang kebetulan favoritku). Kembali batang kemaluanku tegang dan seperti biasa aku melakukan onani di kamar mandi.

Dua hari kemudian terjadi keributan di tetanggaku, yaitu Mbak ita yang sedang bertengkar hebat dengan suaminya (seorang agen). Ia menangis dan kulihat suaminya langsung pergi entah kemana. Aku yang kebetulan berada disitu tidak bisa berbuat apa-apa. Yang ada dipikiranku adalah apa sebenarnya yang sedang terjadi. Keesokan harinya Mbak Ita pergi dengan kedua anaknya yang katanya kerumah nenek, dan kembali sorenya.

Sore itu aku baru akan mandi, begitu juga dengan Mbak ita. Setelah selesai aku langsung buru-buru keluar dari kamar mandi karena kedinginan. Diluar dugaanku ternyata aku menabrak sesuatu yang ternyata adalah Mbak ita. Keadaan waktu itu sangat gelap (mati lampu) sehingga kami saling bertubrukan. Menerima tubrukan itu, Mbak ita hampir jatuh dibuatnya. Secara reflek aku langsung menangkap tubuhnya. AduH! Tenyata aku tanpa sengaja telah menyentuh payudaranya. " Maaf.. Aduh maaf mbak, nggak sengaja" ucapku. " Nggak, nggak pa pa kok, wong saya yang nggak liat" balasnya.

Sejenak kami terdiam dikeheningan yang pada saat itu sama-sama merasakan dinginnya angin malam. Tanpa dikomando, tubuh kami kembali saling berdekatan setelah tadi sempat malu karena kecerobohan kami berdua. Aku sangat degdegan dibuatnya dan tidak tahu harus berbuat apa pada posisi seperti ini. Sepertinya Mbak ita mengetahui bahwa aku belum pengalaman sama sekali. Ia kemudian mengambil inisiatif dan langsung memegang kemaluanku yang berada dibalik handuk. Est ..est.. auw ..aku mengerang keenakan. Belum selesai aku merasakan belaian tangannya, tiba-tiba ujung kemaluanku terasa disentuh oleh benda lembut dan hangat. Mbak ita sudah berada dibawahku denagn posisi jongkok sambil mengulum kemaluanku. Aduuhh .. nikmatt.. terus .. Akh ..est .. Sekarang aku sudah telanjang bulat dibuatnya.

10 menit sudah kemaluanku dikulum oleh Mbak ita. Aku yang tadi pemalu sekarang mulai mengambil tindakan. Mbak ita kusuruh berdiri dihadapanku dan langsung kulumat bibinya dengan lembut. Est .. Ah ..uh ouw .. Ia mendesah ketika bibir kami saling berpagutan satu sama lain. Ciumanku sekarang telah berada pada lehernya. Bau sabun mandi yang masih melekat pada tubuhnya menambah gairahku. Est .. Ah .. teruss.. kepalanya tengadah keatas menahan nikmat. Kini tiba saat yang kutunggu. Handuk yang masih menutupi tubuhnya langsung kubuka tanpa hambatan. Secara samar-samar dapat kulihat bentuk payudaranya. Kuremas dan kukecup dengan lembut dan au ..est..nikmaat..teruss ..aow .., Mbak ita menahan nikmat.

Sambil terus mencicipi bagian tubuhnya akhirnya aku sampai juga didaerah kemaluannya. Aku sedikit ragu untuk memcicipi kemaluanya yang sudah sedikit basah itu. Seperti difilm BF aku mencoba mempraktekkan gaya melumat kemaluan wanita. Kucoba sedikit dengan ujung lidahku, rasanya ternyata sedikit asin dan berbau amis. Tetapi itu tidak menghentikanku untuk terus menjilatinya. Semakin lama rasa jijik yang ada berubah menjadi rasa ninkmat yang tiada tara. Est ..est ..teruuss ..tee..russ..auw ..nik, mat..mbak ita tak mampu menahan nikmat yang diterimanya dari jilatan mautku yang sesekali kuiringi dengan memasukkan jariku ke liang senggamanya. "Mbak mau .. kelu..ar ahh" racaunya.
Tanpa kusadari tiba-tiba keluar cairan kental dari vagina nya yang belakangan kutau bahwa itu adalah cairan wanita. Aku belum berhenti dan terus menjilati kemaluanya sampai bersih.

Puas aku menjilati kemaluannya kemudian langsung aku angkat ia kedalam rumahnya menuju kamar tidurnya. Aduh .. benar-benar tak habis pikir olehku, wanita segede ini bisa kuangkat dengan mudah. Sesampai dikamarnya aku langsung terbaring dengan posisi terlentang. Mbak ita tanpa diperintah sudah tahu apa yang kumau dan langsung mengambil posisi berada diatasku. Oh ..ya pembaca, bahwa batang kemaluanku standar-standar saja untuk orang Indonesia. Aku yang berada dibawah saat itu sengaja tidak berbuat apa-apa dan membiarkan Mbak Ita mengambil inisiatif untuk memuaskanku.

Mbak Ita langsung memegang kemaluanku dan mencoba memasukkannya kedalam liang senggamanya. Blues..bleb.. tanpa hambatan batang kejantananku tenggelam seluruhnya kedalam liang kenikmatan Mbak Ita. Est..es..auw..oh..ah..aku hanya terpejam merasakan kemaluanku seperti diperas-peras dan hangat sekali rasanya. Aku tak menyangka bahwa kenikmatan bersenggama dengan wanita lebih nikmat dibanding dengan aku beronani. Mbak Ita mulai menggenjot pantatnya secara perlahan tapi pasti. Ah..ah..ah..oh..oh..nik..maatt..ahh.. Mbak Ita terus melakukan gerakan yang sangat erotis. Desahan Mbak Ita membuatku semakin bernafsu ditambah dengan payudaranya bergoyang kesana-kemari. Rupanya aku tak bisa lagi tinggal diam. Aku berusaha mengimbangi genjotan Mbak Ita sehingga irama genjotan itu sangat merdu dan konstan. Tangankupun tidak mau kalah dengan pantatku.

Aku berusaha mencapai kedua payudara yang ada didepan mataku itu. "Wah ..indahnya pemandangan ini" ucapku dalam hati. Tidak puas dengan hanya menyentuh payudara Mbak Ita, aku langsung mengambil posisi duduk sehingga payudara Mbak ita tepat berada didepan wajahku. Kembali aku melumat putingnya dengan lembut kiri dan kanan bergantian. Ahh..ah ..ah..oh.. Est..ss Mbak ita kelihatannya tak tahan menahan nikmat dengan perlakuanku ini. Lama kelamaan genjotan Mbak Ita semakin cepat dan aku..a..ku.. kee..luuarr..ahh..ohh..nikmaatt Mbak ita akhirnya mencapai klimaks yang kedua kalinya. Aku yang belum apa-apa merasa kesal tidak bisa klimaks secara bersamaan. Akhirnya aku meminta Mbak Ita untuk kembali mengulum kemaluanku. Mbak Ita yang sudah mendapat kepuasan dengan semangat mengulum dan menjilati kemaluanku. Est..est..ahh..oh ucapku ketika Mbak Ita semakin mempercepat kuluman dan kocokannya pada kemaluanku. Sepertinya ia ingin segera memuaskanku dan menikmati air kejantananku.

Selang 10 menit ah..auw..oh..nik..maatt..oh.. crot..crot..crot..semua air maniku tertumpah diwajah Mbak Ita dan diseluruh tubuhnya. Saat itu Mbak Ita tidak berhenti kulumannya dan menjilati seluruh air jantan tersebut. Aku sangat ngilu dibuatnya tapi sungguh masih sangat nikmat sekali.

Setelah merasakan kepuasan yag tiada tara kami langsung jatuh terkulai diatas kasur. Mbak Ita tampaknya sangat kelelahan dan langsung tertidur pulas dengan keadaan telanjang bulat. Aku yang takut nanti ketahuan orang lain langsung keluar dari kamar tersebut dan mengambil handukku menuju rumahku.

Ketika aku baru akan keluar dari rumah Mbak Ita, alangkah terkejutnya aku ketika dihadapanku ada seorang wanita yang kuduga sudah berdiri disitu dari tadi dan menyaksikan semua perbuatan kami. Eh..mm..mbak..mbak ..Desi..ternyata ia tidak lain adalah Mbak Desi. "Permisi mbak, aku mau masuk dulu" ucapku pura-pura tidak ada yang terjadi. Sambil berjalan tergesa-gesa aku langsung menuju rumahku untuk menghindari introgasi dari Mbak Desi. Tiba-tiba "tunggu!!" teriak Mbak Desi. Aku langsung panas dingin dibuatnya. "Jangan jangan ia akan melaporkanku ke Kepala Desa lagi" ucapku dalam hati." Aduuhh gawat nih, bisa-bisa cuci kampung" pikirku. " A..a..ada apa ya mbak" balasku. Mbak Desi langsung mendekatku dan berkata " kamu akan aku laporkan kesuami Mbak Ita dan kepala desa atas apa yang telah kamu lakukan" ucap Mbak Desi. " Ta..tapi kami melakukannya atas dasar suka sama suka Mbak " balasku dengan perasaan sedikit cemas. Tiba-tiba " ha..ha..ha..ha.. " Mbak desi tertawa.

Aku semakin bingung dibuatnya karena mungkin Mbak desi punya dendam dan sekarang berhasil membalaskannya. " Nggak usah takut, pokoknya sekarang kamu tetap berdiri disitu dan jangan sekali-kali bergerak ok!" usulnya. "Mbak mau melaporkan saya atau takut saya lari" ucapku semakin bingung. Tanpa bicara lagi Mbak Desi semakin mendekatiku. Setelah tidak ada lagi jarak diantara kami tangan Mbak Desi langsung melepas handuk yang kugunakan tadi sehingga aku kembali telanjang bulat."Mbak jangan dikebiri ya.." ucapku."Nnggak..nggak pa pa kok" balasnya. Mbak Desi ternyata langsung berjongkok dan mulai mengocok kemaluanku.

Ah..ah..oh..oh.. aku yang tadi lemas kembali bergairah dibuatnya. Belum lagi aku selesai merasakan nikmatnya kocokan lembut dari tangan Mbak Desi, aku kembali merasakan ada benda lembut, hangat dan basah menyentuh kepala kemaluanku. Aku langsung tahu bahwa itu adalah kuluman dan jilatan dari mulut Mbak Desi setelah tadi aku merasakannya dengan Mbak Ita. Kuluman dan jilatan Mbak Desi ternyata lebih nikmat dari Mbak Ita. Aku bertaruh bahwa Mbak Desi telah melakukan berbagai macam gaya dan variasi dengan suaminya untuk memperoleh keturunan. Estt..ah..oh..oh..aduhh..auw.. desahku menahan hebatnya kuluman Mbak Desi. 15 menit sudah acara kulum-kuluman itu dan sekarang Mbak Desi telah berganti posisi dengan menungging. Pantatnya yang kecil namun berisi itu sekarang menantangku untuk ditusuk segera dengan rudalku. "Ayo..cepetan..kamu sudah lama menginginkan ini kan..Mbak tau kamu sering ngintip dari celah pintu itu..ayoo masukkan dong" ucapnya dengan mesra.

Aku jadi malu dibuatnya bahwa selama ini ia tahu akan perbuatanku. Tanpa pikir panjang aku langsung mencoba memasukkan batang kemaluanku ke liang kenikmatan Mbak Desi. "Aduh!!" meleset pada tusukanku yang pertama. Aku kembali mecoba dan bluess..akhirnya aku berhasil juga. "Gila nih perempuan "pikirku, "ternyata lubang kemaluannya masih sempit sekali" ucapku. Perlahan aku coba menggoyangkan pantatku mau-mundur. Ah.ah..ahh..oh..oh..oh..ah.. Mbah Desi mulai mendesah menahan nikmat. Aku semakin mempercepat goyanganku karena memang ini adalah gaya favoritku. "Ayo..teruuss..ayo.." teriakku memberi semangat". Ah..ah..ah..oh..desah Mbak Desi semakin terdengar kencang. Melihat payudaranya yang bergelantung dan bergoyang-goyang membuatku ingin mewujudkan impianku selama ini. Sambil terus menggenjot Mbak Desi aku berusaha mencapai payudaranya. Kuremas-remas dengan garangnya seolah meremas santan kelapa. Aw..sakiitt..adu..hh..ah..ah.. Mbak Ita tak tahan akan perlakuanku. Aku tidak memperdulikannya dan tetap menggenjot dengan cepat.

Kemudian aku mengganti posisi dengan menggendong Mbak Desi didepanku. Bluess.. Kembali batang kejantananku kumasukkan kedalam liang senggamanya. Ahh..ah..ah..ah..desah Mbak Desi menahan nikmat. Kulumat bibir dan kuciumi seluruh leher dan kukecup kedua puting susunya yang merah itu. Adu..nikkmatt sekaalii ah..ah..ah..oh..oh.. Mendapat perlakuan demikian bertubi-tubi akhirnya Mbak Desi tak sanggup lagi menahan klimaksnya "Keeluuarr ..mau..ke..lua..rr akhirnya Mbak Desi mencapai klimaksnya. Aku yang sedikit lagi juga hampil finish semakin menggenjot dengan cepat."Blep..blep..blep..bunyi hentakan sodokan antara kemaluanku dan kemaluan Mbak Desi yang sudah sangat basah tersebut. Tidak lama kemudian aku merasakan ada denyut-denyut di ujung batang kemaluanku dan:"Crot..crot..crot..tumpahlah seluruh iir maniku kedalam liang senggamanya.

Setelah itu kami berciuman sambil merasakan sisa-sisa nikmat yang ada dan kembali kerumah masing-masing. Keesokan harinya ketika bertemu, kami seolah-olah tidak merasakan sesuatu terjadi. Pembaca sekalian rupanya Mbak Ita tidak mau lagi berbicara denganku semenjak kejadian itu tapi aku terkadang masih melakukan hubungan sex ini hanya dengan Mbak Desi saja ketika saya sedang ingin atau ia sedang sangat ingin melakukannya. Sekarang saya sudah selesai kuliah dan tidak lagi tinggal dibedengan itu. Saya masih sangat merindukan untuk kembali berhubunagn sex dengan Mbak Desi atau Mbak Ita karena mereka telah membuat saya tidak virgin lagi.



Bonus

Kekasih Gelap
Endang Banget
Doggy Sampe Ngecrot
Ceweknya Belum Cukup Gede
Cewe Lagi Nonton TV
Anak Mabuk

Get paid To Promote at any Location
Copyright © Cerita S3X